Nama: Diani Widyaningrum
NPM: 21382004P
Kelas IF GAB EX 1
Pengertian
Perancangan Pengujian
Perancangan pengujian adalah dokumen
yang berisi definisi tujuan pengujian,
item untuk diuji, pendekatan untuk dilakukan, sumber daya yang diperlukan, dan
poin yang harus dicapai dalam iterasi (atau proyek). Dengan kata lain, rencana
pengujian dapat digambarkan sebagai rencana atau skenario untuk menjalankan
pengujian, yang dilakukan oleh ahli atau pengguna biasa. Perancangan pengujian
yang dibuat untuk menguji perangkat lunak yang sedang dikembangkan sangat
penting. Perencanaan tersebut juga membantu memandu alur kerja tim dan
mengelola jumlah tanggung jawab yang
dimiliki setiap individu dalam tim
pengembangan perangkat lunak. Setiap tim juga memiliki format strategi tes dan
rencana penempatan yang berbeda. Perbedaan ini mungkin terkait dengan tujuan
aplikasi, sumber daya yang terbatas, proses pembuatan, serta alat dan alat uji
yang digunakan.
Tujuan Perancangan
Pengujian
Secara umum tujuan dibuatnya
Perancangan Pengujian adalah untuk memudahkan developer menjalankan test
sehingga test yang mereka jalankan lebih jelas dan hasilnya lebih bermanfaat
dan efisien. Tujuan lainnya adalah langkah-langkah yang harus diikuti, sumber
daya yang dibutuhkan, dan item yang harus dibuat. Tujuan membuat rencana
pengujian adalah untuk memudahkan pengembang menjalankan dan memperjelas
pengujian yang sedang berjalan untuk hasil yang lebih berguna dan efisien.
Pembuatan test case bertujuan untuk memastikan bahwa suatu sistem dapat
dijalankan dengan baik sesuai dengan kebutuhan awal serta mampu memberikan
respon ketika terdapat suatu masukan yang tidak valid. Test Case memiliki
beberapa komponen seperti test case id, test case description, precondition,
test step, expected result,actual result, serta status. Test Case bertindak
sebagai titik awal dalam pelaksanaan pengujian sebuah sistem. Dari test case
ini biasanya diketahui apakah fitur sistem berjalan normal atau tidak.
Langkah-Langkah
Melakukan Perancangan Pengujian Beserta Contoh test Case
Langkah-Langkah Melakukan Perancangan
Pengujian dapat dibuat dengan mengikuti template pembuatan test plan, namun
tidak harus mengacu kepada template yang
ada, walaupun pada garis besar inti bagian dari setiap test plan adalah sama. Berikut
adalah penjelasan mengenai template Test Plan yang dikeluarkan oleh IEEE 829
(Institute of Electrical and Electronics Engineers)
1. Test Plan Identifier
Test Plan
Identifier adalah bagian untuk menjelaskan secara singkat mengenai objek yang
akan di test. Bisa berupa penjelasan narasi atau berbentuk tabel dengan
kategori kategori tertentu. Informasi yang dijelaskan dapat berupa sekilas
mengenai subjek testing, nama orang yang bertanggung jawab terhadap testing,
penyusun test plan , tanggal dibuat test plan dan tanggal revisi,dll.
2. Introduction
Pada bagian
introduction dibuat untuk menjelaskan secara narasi, mengenai testing yang akan
dilakukan terhadap suatu objek testing. Bagian Introduction dapat dibuat lebih
rinci dengan menambahkan sub bab apabila perlu untuk dibuat. Contoh subbab yang
dapat dibuat antara lain :
·
Purpose
:untuk menjelaskan tujuan testing secara spesifik.
·
Background
:latar belakang mengapa testing dilakukan.
·
Scope
:Sejauh mana testing dilakukan.
·
Definition and Acronyms : penjelasan mengenai
singkatan dan isitlah yang ada di dalam dokumen test plan.
3. 3. Test Items
Bagian test
item menjelaskan mengenai daftar komponen komponen dalam objek testing yang
akan di test satu per satu. Contohnya :
Kemudian
4.
4. Features to be tested
Penjelasan dan daftar daftar fitur yang akan ditest di pada saat
pelaksanaan testing dimulai. Dapat berupa Tabel Contohnya adalah :
5. 5. Features Not to be Tested
Menjelaskan
mengenai fitur fitur apa saja yang ada di dalam objek testing namun, fitur
tersebut tidak akan di test pada saat pelaksanaan testing dan disertakan
penjelasan singkat mengapa fitur tersebut tidak di test pada saat testing. Contoh:
6.
6. Approach / Test Strategy
Bagian
Approach adalah bagian yang digunakan untuk memberi deskirpsi mengenai
Cara/approach yang dilakukan untuk melaksanakan testing dan disertakan dengan
penjelasan mengenai approach yang digunakan.
Contohnya :
Unit Testing menggunakan Black Box Testing dan atau White box testing beserta
dengan penjelasan mengenai approach/ pendekatan yang dipakai.
7.
Item Pass / Fail Criteria
Berisi tentang
Kriteria- kriteria yang harus dipenuhi sebelum berlanjut ke fase berikutnya.
Dan Kriteria Testing disebut gagal/fail. Contoh :
·
Jika suatu item di test sebanyak 10 kali dan 9 kali
diantaranya berhasil namun ada 1 dimana benar benar gagal maka item tersebut
dinyatakan sebagai gagal/ fail.
·
Jika hasil dari suatu item sama dengan hasil yang
diharapkan maka item tersebut dinyatakan berhasil/pass.
·
System Crash akan dinyatakan sebagai fail,dsb.
8.
8. Suspension Criteria
Berisi tentang
Spesifikasi Kriteria- kriteria yang dapat digunakan untuk menghentikan
sementara kegiatan testing dan testing tersebut dapat dilanjutkan di waktu
lain. Contoh:
Beberapa
individual test cases dapat di suspend, di skip atau dikurangi jika test yang
diperlukan(prerequisite test) untuk
individual test cases tersebut fail dan memerlukan perbaikan, apabila test
cases individual tetap dilakukan meskipun prerequisite test yang diperlukan
fail maka hanya akan membuang sumber daya /resources saja.
9.
Test Deliverables
Menjelaskan
Kegiatan testing beserta dengan pihak yang akan melaksanakan kegiatan/task
tersebut. Contoh:
10.
Testing Task
Menjelaskan
Kegiatan testing beserta dengan pihak yang akan melaksanakan kegiatan/task
tersebut. Contohnya:
11.
Enviromental Needs
Spesifikasi dan Perincian segala sesuatu yang dibutuhkan dan digunakan
selama proses testing berjalan, bisa berupa hardware yaitu spesifikasi komputer
atau hal lain selain hardware, misalnya izin akses seperti :
·
Membutuhkan akses ke dalam database untuk melaksanakan
testing.
·
Membutuhkan akses ke dalam official website.
1112. Responsibilities
Rincian Pihak
pihak yang akan bertanggung jawab terhadap suatu kegiatan task di dalam
serangkaian kegiatan testing yang akan dilaksanakan.
13.
Staffing and Training Needs
Secara garis
besar menjelaskan bagaimana melakukan pendekatan untuk menentukan peran para
staff di dalam proyek. Dan melakukan training apabila diperlukan untuk testing.
Contoh :
Project
Manager :
Bertanggung jawab untuk mengatur implementasi total dari website.
Test
Manager :
Bertanggung jawab untuk mengembangkan master test plan , review test
deliverables, manage test cycle dan melaporkan status kepada test manager.
Test
Engineer :
Bertanggung jawab untuk merancang desain dari test, membuat prosedur testing,
membuat test data dan menjalankan test.
14.
Schedule
Ada beberapa tujuan dalam membuat schedule di dalam test plan, antara
lain :
1)
Merincikan Tolak ukur waktu pengerjaan Testing.
2)
Merincikan event transmittal item.
3)
Estimasi waktu yang dibutuhkan untuk setiap task.
4)
Menjadwalkan Testing task dan Test Milestone.
5)
Merincikan periode pemakaian Testing resources.
15.
Risk and Contingencies
Digunakan
untuk memastikan agar hasil testing tetap berkualitas dengan memeriksa beberapa
bagian yang tidak termasuk di dalam control pengerjaan software, namun bagian
tersebut dapat berdampak langsung terhadap proses. Contoh :
Sekuritas
Layanan Ketika masuk di dalam software masih belum diperhatikan, ketika
software sedang dijalankan, belum ada proteksi keamanan oleh software ini
sendiri sehingga akan sangat mudah apabila diinjeksi oleh pihak yang tidak
bertanggung jawab.
16.
Approvals
Lembar
persetujuan sebagai tanda bahwa seluruh tim/pimpinan telah menyetujui Test Plan
yang telah dibuat.
Alamat web Program studi, Fakultas, Universitas
http://ti.ftik.teknokrat.ac.id, http://ftik.teknokrat.ac.id, www.teknokrat.ac.id