Nama : Diani Widyaningrum
NPM : 21382004P
Kelas : IF GAB EX
Mata Kuliah : Pengujian Perangkat Lunak
SDLC (System Development Life Cycle) atau Siklus Hidup Sistem adalah proses membuat dan memodifikasi sistem serta model dan metode yang digunakan untuk mengembangkan sistem ini dalam rekayasa sistem dan rekayasa perangkat lunak. Konsep ini umumnya mengacu pada komputer atau sistem informasi. SDLC juga merupakan pola untuk mengembangkan sistem perangkat lunak dan terdiri dari fase perencanaan, analisis, desain, implementasi, pengujian, dan pemeliharaan. Dalam pengembangan perangkat lunak Angsyat, konsep SDLC mendasari banyak jenis metodologi pengembangan perangkat lunak. Metode ini menyediakan kerangka kerja untuk pembuatan sistem informasi, yaitu merencanakan dan mengendalikan proses pengembangan perangkat lunak.
Salah satu contohnya
adalah metode Waterfall.
Metode waterfall merupakan salah satu metode
pengembangan perangkat lunak yang paling umum karena dianggap mudah untuk
diimplementasikan. Keakraban dengan metode ini akan membantu Anda
menerapkannya.
Definisi
Waterfall
Secara harfiah, metode ini adalah
proses top-down satu arah, yang berarti air terjun. Metode ini pertama kali
dipresentasikan pada simposium Juni 1956 tentang metode pemrograman tingkat
lanjut untuk komputer digital di Washington, DC. Hasil simposium tersebut kemudian dicatat oleh US
Maritime Research Center. Herbert D. Bennington adalah nama yang paling sering
dikaitkan dengan pencipta teknik pemrograman ini, berdasarkan presentasinya
pada simposium tahun 1956. Namun baru-baru ini, nama seorang ilmuwan komputer
AS bernama Winston Walker-Royce juga muncul. Dia menulis disertasinya yang
terkenal, "Mengelola Pengembangan Sistem Perangkat Lunak Skala
Besar," pada tahun 1970, dan dia sendiri dianggap sebagai karya perintis
dalam Waterfall Act. Nama "air terjun" tidak digunakan dalam
karyanya. Pada tahun 1983, giliran Bennington untuk menerbitkan ulang
makalahnya tahun 1956. Esai berjudul "Membuat Program Komputer Besar"
mengulangi tahap pemrosesan menggunakan komposisi tugas komputasi. Namun, menurut
Bennington, karakteristik top-down dari metode Waterfall bergantung pada
penggunaan prototipe dan tidak diterapkan secara ketat pada saat itu.
Metode waterfall adalah salah satu
pengembangan perangkat lunak yang berfokus pada aliran logis dari siklus hidup
pengembangan perangkat lunak (SDLC). Metode ini telah menjadi metode
tradisional dalam beberapa tahun terakhir, karena beberapa metode yang lebih cepat telah
muncul, baik dari segi jenis logika komputer maupun urutan proses. Namun, dalam
beberapa dekade terakhir, proses ini telah menjadi desain proses yang umum di
industri.
TAHAPAN
METODE WATERFALL
1.
Requirements Definition
Pada tahap ini, pengembang perlu mengetahui semua
informasi yang terkait dengan kebutuhan perangkat lunak, seperti Penggunaan
perangkat lunak yang diinginkan oleh pengguna dan pembatasan perangkat lunak. Informasi ini biasanya diperoleh dari
wawancara, survei, atau diskusi. Informasi tersebut kemudian dianalisis untuk
mendapatkan data yang lengkap tentang kebutuhan pengguna terhadap perangkat
lunak yang sedang dikembangkan.
2.
System and Software
Design
Level selanjutnya adalah desain. Perancangan dilakukan
sebelum proses coding dimulai. Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran
lengkap tentang apa yang perlu dilakukan dan seperti apa sistem yang akan
dibuat nantinya. Ini juga mendefinisikan
arsitektur sistem yang dibangun secara keseluruhan untuk membantu menentukan
persyaratan perangkat keras dan sistem.
3.
Implementation
and unit testing
Proses penulisan kode ada pada tahap ini. Pengembangan
perangkat lunak dibagi menjadi modul-modul yang lebih kecil yang akan disatukan
pada langkah berikutnya. Pada fase ini, modul yang dibuat juga diperiksa untuk
menentukan apakah modul tersebut melakukan fungsi yang dimaksudkan.
4.
Integration
and unit testing
Pada tahap keempat ini, modul yang telah dibuat
sebelumnya digabungkan. Selanjutnya, pengujian dijalankan untuk menentukan
apakah perangkat lunak tersebut kompatibel dengan desain yang diinginkan dan
apakah masih terdapat kesalahan.
5.
Operation and
Maintenance
Operasi
dan pemeliharaan adalah tahap akhir dari metode pengembangan air terjun. Perangkat
lunak yang telah selesai sekarang dijalankan atau dimanipulasi oleh pengguna.
Kelebihan
dari Metode Waterfall
Berikut ini
merupakan beberapa kelebihan yang dimiliki oleh metode waterfall, antara lain:
1.
Workflow yang jelas
Dengan menggunakan model SDLC jenis
ini, mempunyai rangkaian alur kerja sistem yang jelas dan terukur. Masing –
masing tim, memiliki tugas dan tanggung jawab sesuai dengan bidang keahliannya.
Serta dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan alokasi waktu yang telah
ditentukan sebelumnya.
2.
Hasil dokumentasi yang baik
Waterfall merupakan pendekatan yang
sangat metodis, dimana setiap informasi akan tercatat dengan baik dan
terdistribusi kepada setiap anggota tim secara cepat dan akurat. Dengan adanya
dokumen, maka pekerjaan dari setiap tim akan menjadi lebih mudah, serta
mengikuti setiap arahan dari dokumen tersebut.
3.
Dapat menghemat biaya
Kelebihan yang selanjutnya tentu
saja dari segi resource dan biaya yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan dengan
menggunakan model ini. Jadi, dalam hal ini klien tidak dapat mencampuri urusan
dari tim pengembang aplikasi. Sehingga pengeluaran biaya menjadi lebih sedikit.
Berbeda dengan metode Agile, yang mana klien dapat memberikan masukan dan
feedback kepada tim developer terkait dengan perubahan atau penambahan beberapa
fitur. Sehingga perusahaan akan mengeluarkan biaya yang lebih besar daripada
Waterfall.
4.
Digunakan untuk pengembangan software berskala
besar
Metode ini dinilai sangat cocok
untuk menjalankan pembuatan aplikasi berskala besar yang melibatkan banyak
sumber daya manusia dan prosedur kerja yang kompleks. Akan tetapi, Model ini
juga dapat digunakan untuk proyek berskala kecil dan menengah. Tentu saja
disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan proyek yang diambil.
Kekurangan
dari Metode Waterfall
Berikut ini
terdapat beberapa kelemahan dari metode waterfall, diantaranya adalah sebagai
berikut:
1.
Membutuhkan tim yang solid
Untuk menggunakan model SDLC ini,
tentu saja membutuhkan dukungan dari setiap stakeholders yang ada. Setiap tim
harus mempunyai kerja sama dan koordinasi yang baik. Dikarenakan, apabila salah
satu tim tidak dapat menjalankan tugas dengan semestinya, maka akan sangat
berpengaruh terhadap alur kerja tim yang lain.
2.
Masih kurangnya fleksibilitas
Semua tim dituntut untuk bekerja
sesuai dengan arahan dan petunjuk yang telah ditetapkan di awal. Sehingga, klien
tidak dapat mengeluarkan pendapat dan feedback kepada tim pengembang. Klien
hanya dapat memberikan masukan pada tahap awal perancangan sistem perangkat
lunak saja.
3.
Tidak dapat melihat gambaran sistem dengan
jelas
Dengan model waterfall, customer
tidak dapat melihat gambaran sistem secara jelas. Berbeda dengan model agile
yang dapat terlihat dengan baik meskipun masih dalam proses pengembangan.
4.
Membutuhkan waktu yang lebih lama
Proses pengerjaan dengan menggunakan waterfall terbilang cukup lama jika dibandingkan dengan model SDLC yang lain. Karena, tahapan pengerjaan aplikasi yang dilakukan satu per satu membuat waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama. Sebagai contoh, tim developer tidak akan bisa melakukan proses coding jika tim designer belum menampilkan tampilan desain dari aplikasi.
Alamat web Program studi, Fakultas, Universitas
http://ti.ftik.teknokrat.ac.id, http://ftik.teknokrat.ac.id, www.teknokrat.ac.id
0 komentar:
Posting Komentar