Selasa, 01 Maret 2022

SDLC DENGAN METODE WATERFALL

Diposting oleh Diani Widyaningrum di 04.34

Nama            : Diani Widyaningrum
NPM             : 21382004P
Kelas             : IF GAB EX        
Mata Kuliah  : Pengujian Perangkat Lunak

SDLC (System Development Life Cycle) atau Siklus Hidup Sistem adalah proses membuat dan memodifikasi sistem serta model dan metode yang digunakan untuk mengembangkan sistem ini dalam rekayasa sistem dan rekayasa perangkat lunak. Konsep ini umumnya mengacu pada komputer atau sistem informasi. SDLC juga merupakan pola  untuk mengembangkan sistem perangkat lunak dan terdiri dari fase perencanaan, analisis, desain, implementasi, pengujian, dan pemeliharaan. Dalam pengembangan perangkat lunak Angsyat, konsep SDLC mendasari banyak jenis metodologi pengembangan perangkat lunak. Metode ini menyediakan kerangka kerja untuk pembuatan sistem informasi, yaitu merencanakan dan mengendalikan proses pengembangan perangkat lunak.


Salah satu contohnya adalah metode Waterfall.

 Metode waterfall merupakan salah satu metode pengembangan perangkat lunak yang paling umum karena dianggap mudah untuk diimplementasikan. Keakraban dengan metode ini akan membantu Anda menerapkannya.

Definisi Waterfall


Secara harfiah, metode ini adalah proses top-down satu arah, yang berarti air terjun. Metode ini pertama kali dipresentasikan pada simposium Juni 1956 tentang metode pemrograman tingkat lanjut untuk komputer digital di Washington, DC. Hasil  simposium tersebut kemudian dicatat oleh US Maritime Research Center. Herbert D. Bennington adalah nama yang paling sering dikaitkan dengan pencipta teknik pemrograman ini, berdasarkan presentasinya pada simposium tahun 1956. Namun baru-baru ini, nama seorang ilmuwan komputer AS bernama Winston Walker-Royce juga muncul. Dia menulis disertasinya yang terkenal, "Mengelola Pengembangan Sistem Perangkat Lunak Skala Besar," pada tahun 1970, dan dia sendiri dianggap sebagai karya perintis dalam Waterfall Act. Nama "air terjun" tidak digunakan dalam karyanya. Pada tahun 1983, giliran Bennington untuk menerbitkan ulang makalahnya tahun 1956. Esai berjudul "Membuat Program Komputer Besar" mengulangi tahap pemrosesan menggunakan komposisi tugas komputasi. Namun, menurut Bennington, karakteristik top-down dari metode Waterfall bergantung pada penggunaan prototipe dan tidak diterapkan secara ketat pada saat itu.

Metode waterfall adalah salah satu pengembangan perangkat lunak yang berfokus pada aliran logis dari siklus hidup pengembangan perangkat lunak (SDLC). Metode ini telah menjadi metode tradisional dalam beberapa tahun terakhir, karena  beberapa metode yang lebih cepat telah muncul, baik dari segi jenis logika komputer maupun urutan proses. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, proses ini telah menjadi desain proses yang umum di industri.

 

TAHAPAN METODE WATERFALL

1.      Requirements Definition

Pada tahap ini, pengembang perlu mengetahui semua informasi yang terkait dengan kebutuhan perangkat lunak, seperti Penggunaan perangkat lunak yang diinginkan oleh pengguna dan pembatasan perangkat lunak.  Informasi ini biasanya diperoleh dari wawancara, survei, atau diskusi. Informasi tersebut kemudian dianalisis untuk mendapatkan data yang lengkap tentang kebutuhan pengguna terhadap perangkat lunak yang sedang dikembangkan.

 

2.      System and Software Design

Level selanjutnya adalah desain. Perancangan dilakukan sebelum proses coding dimulai. Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang apa yang perlu dilakukan dan seperti apa sistem yang akan dibuat nantinya.  Ini juga mendefinisikan arsitektur sistem yang dibangun secara keseluruhan untuk membantu menentukan persyaratan perangkat keras dan sistem.

 

3.      Implementation and unit testing

Proses penulisan kode ada pada tahap ini. Pengembangan perangkat lunak dibagi menjadi modul-modul yang lebih kecil yang akan disatukan pada langkah berikutnya. Pada fase ini, modul yang dibuat juga diperiksa untuk menentukan apakah modul tersebut melakukan fungsi yang dimaksudkan.

 

4.      Integration and unit testing

Pada tahap keempat ini, modul yang telah dibuat sebelumnya digabungkan. Selanjutnya, pengujian dijalankan untuk menentukan apakah perangkat lunak tersebut kompatibel dengan desain yang diinginkan dan apakah masih terdapat kesalahan.

 

5.      Operation and Maintenance

Operasi dan pemeliharaan adalah tahap akhir dari metode pengembangan air terjun. Perangkat lunak yang telah selesai sekarang dijalankan atau dimanipulasi oleh pengguna.

               

Kelebihan dari Metode Waterfall

Berikut ini merupakan beberapa kelebihan yang dimiliki oleh metode waterfall, antara lain:

1.       Workflow yang jelas

Dengan menggunakan model SDLC jenis ini, mempunyai rangkaian alur kerja sistem yang jelas dan terukur. Masing – masing tim, memiliki tugas dan tanggung jawab sesuai dengan bidang keahliannya. Serta dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan sebelumnya.

2.       Hasil dokumentasi yang baik

Waterfall merupakan pendekatan yang sangat metodis, dimana setiap informasi akan tercatat dengan baik dan terdistribusi kepada setiap anggota tim secara cepat dan akurat. Dengan adanya dokumen, maka pekerjaan dari setiap tim akan menjadi lebih mudah, serta mengikuti setiap arahan dari dokumen tersebut.

3.       Dapat menghemat biaya

Kelebihan yang selanjutnya tentu saja dari segi resource dan biaya yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan dengan menggunakan model ini. Jadi, dalam hal ini klien tidak dapat mencampuri urusan dari tim pengembang aplikasi. Sehingga pengeluaran biaya menjadi lebih sedikit. Berbeda dengan metode Agile, yang mana klien dapat memberikan masukan dan feedback kepada tim developer terkait dengan perubahan atau penambahan beberapa fitur. Sehingga perusahaan akan mengeluarkan biaya yang lebih besar daripada Waterfall.

4.       Digunakan untuk pengembangan software berskala besar

Metode ini dinilai sangat cocok untuk menjalankan pembuatan aplikasi berskala besar yang melibatkan banyak sumber daya manusia dan prosedur kerja yang kompleks. Akan tetapi, Model ini juga dapat digunakan untuk proyek berskala kecil dan menengah. Tentu saja disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan proyek yang diambil.

 

Kekurangan dari Metode Waterfall

Berikut ini terdapat beberapa kelemahan dari metode waterfall, diantaranya adalah sebagai berikut:

 

1.       Membutuhkan tim yang solid

Untuk menggunakan model SDLC ini, tentu saja membutuhkan dukungan dari setiap stakeholders yang ada. Setiap tim harus mempunyai kerja sama dan koordinasi yang baik. Dikarenakan, apabila salah satu tim tidak dapat menjalankan tugas dengan semestinya, maka akan sangat berpengaruh terhadap alur kerja tim yang lain.

2.       Masih kurangnya fleksibilitas

Semua tim dituntut untuk bekerja sesuai dengan arahan dan petunjuk yang telah ditetapkan di awal. Sehingga, klien tidak dapat mengeluarkan pendapat dan feedback kepada tim pengembang. Klien hanya dapat memberikan masukan pada tahap awal perancangan sistem perangkat lunak saja.

3.       Tidak dapat melihat gambaran sistem dengan jelas

Dengan model waterfall, customer tidak dapat melihat gambaran sistem secara jelas. Berbeda dengan model agile yang dapat terlihat dengan baik meskipun masih dalam proses pengembangan.

4.       Membutuhkan waktu yang lebih lama

Proses pengerjaan dengan menggunakan waterfall terbilang cukup lama jika dibandingkan dengan model SDLC yang lain. Karena, tahapan pengerjaan aplikasi yang dilakukan satu per satu membuat waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama. Sebagai contoh, tim developer tidak akan bisa melakukan proses coding jika tim designer belum menampilkan tampilan desain dari aplikasi.

 

Alamat web Program studi, Fakultas, Universitas 
 http://ti.ftik.teknokrat.ac.idhttp://ftik.teknokrat.ac.idwww.teknokrat.ac.id 

0 komentar:

Posting Komentar

 

azul Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei